Rabu, 29 Oktober 2014

Makalah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan
Ikhwal Berdirinya Muhammadiyah
Disusun oleh :
Bayu Satria Kusuma / 201210370311224
Rifky Pujiyansyah Suropaty / 201210370311225
Fengki Faradila / 201210370311229
Moch Syafiudin Nuha / 201210370311230
Hatta Karya Nugraha / 201210370311231





PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014/2015



KATA PENGANTAR

 

Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, alhamdulillah rasa syukur kami panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kami kelancaran dalam pembuatan makalah ini dan selesai tepat pada waktunya.
Berikut ini kami mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul “Ikhwal Berdirinya Muhammadiyah” yang bertujuan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan serta memberi manfaat yang banyak bagi pembaca untuk mengenal lebih jauh tentang awal berdirinya Muhammadiyah.
Melalui kata pengantar ini kami meminta maaf dan memohon kemakluman bila ada kesalahan dan kekurangan dari makalah ini. Dan juga kami berterima kasih kepada pembaca semoga makalah ini diberkahi banyak manfaat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penulis



DAFTAR ISI

 






a.        Latar Belakang

            Selama ini terdapat kesalahpahaman sebagian masyarakat terhadap Muhammadiyah. Mereka menganggap bahwa Muhammadiyah bertanggung jawab perpecahan yang berlarut - larut di kalangan umat Islam. Sebab dengan berdirinya Muhammadiyah umat Islam menjadi tekotak - kotak dan sulit dipersatukan. Timbulnya penilaian seperti itu tidak terlepas dari keterbatasan pembacaan mereka terhadap kondisi bangsa Indonesia khususnya umat Islam selama masa penjajahan.
            Dalam konteks kesejarahan, berdirinya Muhammadiyah merupakan tuntutan dan keharusan sejarah agar bangsa Indonesia memiliki jati diri dan daya tawar yang tinggi di mata penjajah. berdirinya Muhammadiyah sebenarnya didorong oleh kegelisahan dan keprihatinan yang mendalam terhadap model dakwah dan pola pemikiran keagamaan konvensional-tradisional saat itu.
            Dalam doktrin Islam disebutkan : “kuntum khairah ummah”, namun kenyataannya hampir seluruh bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam  hidup dalam tekanan penjajah. Oleh karena itu, KH. Admad Dahlan (nama kecil beliau Muhammad Darwis) merasa perlu mendirikan Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H. Bertepatan dengan 18 November 1912 M. Secara garis besar faktor yang melatar belakangi lahirnya Muhammadiyah antara lain dikarenakan :
  1. Kondisi internal umat Islam.
  2. Kondisi eksternal umat Islam .

b.        Rumusan Masalah     

  1. Mengetahui kondisi internal dan eksternal umat islam ?
  2. Apa visi dan misi Muhammadiyah ?
  3. Bagaimana latar belakang pendiri Muhammadiyah ?

c.         Tujuan Penulisan      

  1. Menjelaskan bagaimana internal dan eksternal umat islam.
  2. Menjelaskan visi dan misi Muhammadiyah.
  3. Menjelaskan latar belakang pendiri Muhammadiyah.



a.        Kondisi Internal Umat Islam

            Keberagaman umat Islam di Indonesia tak lepas dengan proses penyebaran islam di jawa. pada waktu islam di jawa telah memiliki tradisi dan kepercayaan keagamaan yang merupakan perpaduan antara tradisi dan kepercayaan tradisional yang telah berubah menjadi adat dan istiadat bersifat agamis dengan bentuk mistik berjiwa Hindu dan Budha (sinkritisme).
Tradisi Ini ikut berkembang seiring berkembangnya islam di pulau jawa disebabkan para penyebar islam di jawa adalah para saudagar dari gujarat dimana mereka merupakan bangsa dari India yang dalam kehidupan sehari harinya terbiasa dengan kepercayaan animistik dan dinamistik  serta ajaran tasawuf dimana di ajaran tersebut nampaknya lebih memudahkan masyarakat jawa untuk menerima dan mengingat ajaran tassawuf hampir sama unsur-unsur ajarannya dengan kepercayaan masyarakat pra islam, jadi dengan kata lain penyebaran islam di Indonesia bukan Islam yang pendekatannya dengan kekuatan nalar atau fikiran melainkan lebih ke batin.
Faktor lainnya adalah keterbatasannya para penyebar agama Islam yaitu Para Wali yang jumlahnya tidak mampu mencakup semua daerah di Jawa sehingga di daerah plosok - plosok masih banyak yang belum terjamah oleh ajaran agama Islam dan juga pengaruh kerjaan Hindu dan Budha yang sudah hidup berjuta-juta tahun sebelum Islam datang ke Indonesia sehingga memaksa para penyebar untuk bisa menyesuaikan diri dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh kerjaan Hindu Budha.
Faktor internal lainnya yang berperan dalam berdirinya Muhammadiyah bisa diambil dari kondisi perekonomian umat islam, solidaritas sosial yang memudar antar umat Islam dan pendidikan umat Islam yang memprihatinkan.



b.        Kondisi Eksternal Umat Islam

  1. Kebijakan politik kolonial Belanda terhadap umat Islam

            Sejak Belanda mendarat di bumi Nusantara (sekitar 1556 M) kehidupan umat Islam mulai terusik. Mengingat kedatangan mereka pertama kali mendarat di pelabuhan Banten dengan kepala rombongan Cornelis De Houtman dan Dayer itu bermisi ganda, yaitu mereka tidak saja ingin menguasai Nusantara yang terkenal dengan rempah - rempah melainkan sekaligus ada unsur misi kristenisasi.
            Sikap politik lainnya dari kolonial Belanda terhadap umat Islam adalah pengawasan yang sangat ketat terhadap hubungan umat Islam dengan dunia luar termasuk setelah umat Islam berkenalan dengan pemikiran Pan-Islamisme dari Jamaluddin Al-Afgani. Hal ini disebabkan ajaran Jamaludin Al-Afghani menekankan sebuah eksistensi bangsa terutama umat Islam, serta dampat penjajahan negara jajahan.
            Maka untuk membatasi ruang gerak umat Islam, selain meminimalkan bahkan memutuskan sama sekali hubungan umat Islam dengan dunia luar termasuk bagi umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji, penjajah kolonial Belanda mendirikan kelompok-kelompok aliansi dari unsur masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menghadapi umat Islam. Campur tangan kolonial Belanda terhadap perang Padri di Sumatra Barat (tahun 1821-1838) dan perang Aceh (tahun 1872-1909) dengan memihak kaum adat melawan para ulama’ merupakan bukti adanya aliansi dukungan Belanda.

2.            Pengaruh Perkembangan Islam di Timur Tengah

            Pengaruh gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Timur Tengah juga turut andil terhadap berdirinya Muhammadiyah. Menurut Deliar Noer, gerakan reformasi intelektual kaum Muslimin di Timur Tengah seperti Makkah dan Kairo sangat mempengaruhi perkembangan Islam modernis di Indonesia. Pengaruh gerakan pembaharuan tersebut antara lain melalui orang Indonesia sendiri yang secara kebetulan menunaikan ibadah haji dan sekaligus mereka tetap bermukmin di tanah suci untuk menuntut ilmu.
            Dibelahan Timur Tengah lainnya seperti Kairo dan Mesir ide - ide pembaharuan Muhammad Abduh telah telah menyebar hampir keseluruh negara - negara Muslim atau negara - negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam termasuk Indonesia melalui penyebaran majalah “Al - Manar”. Diantara sekian banyak pembaca “Al-Manar” itu terdapat seorang pembaca yang intens, yaitu KH. Ahmad Dahlan.
            Selain pembaca “Al - Manar” KH. Ahmad Dahlan juga pernah bermukim di Timur Tengah selama dua tahun (1903 - 1905) untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman. Pergumulan secara langsung dengan ide - ide pembaharuan di pusat Islam (Timur Tengah) telah mendorong KH. Ahmad Dahlan untuk mengadakan pembaharuan Islam di Indonesia melalui organisasi yang didirikannya, yaitu Muhammadiyah.
            Ide Pan-Islamisme dari Jalaluddin Al-Aghani di Mesir turut memperkuat pemahaman pembaharuan Islam di Indonesia terutama yang menyangkut keberadaan penjajah di tanah air. Maka secara tidak langsung, kesadaran masyarakat Jawa untuk mengusir penjajah Belanda tidak lain karena diilhami ajaran Jalaludin Al-Ghani tentang eksistensi kemerdekaan bagi sebuah negara khususnya umat Islam.
            H.A.R. Gibb mengklarifikasi pembaharuan/pendidikan yang dilakukan Muhammad Abduh (1849-1905) di Mesir, sebagai berikut :
a.            Membersihkan Islam dari pngaruh dan kebiasaan asing
b.            Pembaharuan pendidikan tinggi Islam
c.            Reformulasi doktrin Islam dengan alam fikiran modern
d.            Mempertahankan Islam dari pengaruh - pengaruh Eropa dan serangan Kristen
            Sementara H.A Mukti Ali membuat rumusan, bahwa pembaharuan maupun pendidikan yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan berorientasi pada :
a.            Membersihkan Islam Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan hukum Islam.
b.            Reformulasi doktrin Islam dengan pandanga alam fikiran modern
c.            Reformasi ajaran Islam dan pendidikan Islam
d.            Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar Islam
            Muhammad Abduh berkeinginan untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti sedia kala, tepatnya di masa umat Islam menguasai peradaban dunia, baik bidang Kimia, Matematika, Fisika, Kedokteran, Arsitektur, Filsafat, Seni dan sebainya. Pada dasarnya kedua pandangan tersebut memiliki maksud yang sama, yaitu sama-sama ingin meningkatkan sumber daya manusia umat Islam.



c.         Visi dan Misi Muhammadiyah

Sejak Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah berkomitmen dengan perjuangan yang berorientasi pada :
  1. Menegakkan keyakinan “tauhid” yang murni sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. atau membersihkan amalan islam dari tradisi dan kepercayaan yang bersumber dari selain Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
  2. Menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan sistem pnedidikan modern.
  3. Mewujudkan amalan-amalan islam dalam kehidupan perorangan, keluarga dan masyarakat.
  4. Reformasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern.
Kemurnian ajaran islam (tauhid) mendapatkan perhatian tersendiri dari Muhammadiyah karena bertauhid yang murni atau “tauhid” yang tidak terkontaminasi oleh berbagai tradisi dan kepercayaan selain islam merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga adanya  keyakinan terhadap kekuatan supranatural selain Allah, jelas bertentangan dengan ajaran Islam (Syirik) dan termasuk dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah.
Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah bukan sekedar organisasi semata, melainkan juga sebagai gerakan keagamaan yang didalamnya terkandung sistem keyakinan, pengetahuan organisasi, praktek aktifitas yang mengarah pada tujuan yang dicita-citakan.
Muhammadiyah sebagai organisasi memerlukan perekat yang kuat guna mempertahankan nilai-nilai, sejarah, ikatan dan kesinambungan gerakan dalam melaksanakan amal usah, di sinilah pentingnya ideologi.
Ideologi Muhammadiyah secara substansi terkandung dalam “Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah” serta matan “Keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah”. Adapun fungsi ideologi dalam Muhammadiyah :
  1. Memberi arah tentang paham Islam yang diyakini Muhammadiyah
  2. Mengikat solidaritas kolektif antar warga Muhammadiyah
  3. Membangun kesamaan dalam menyusun strategi perjuangan
  4. Membangun karakter warga Muhammadiyah
  5. Saran memobilisasi anggota Muhammadiyah

d.        Profil Pendiri Muhammadiyah


Pendiri Muhammadiyah adalah K.H. Ahmad Dahlan atau dikenal dengan nama kecilnya yaitu “Muhammad Darwis”. Beliau lahir pada tahun 1868 dari pasangan orang tua yang dikenal sebagai pemuka agama. Ayahnya Kyai Haji Abu Bakar adalah seorang khatib dan Imam besar di Masjid besar Kesultanan Yogyakarta, sedangkan ibunya bernama Siti Aminah anak seorang penghulu bernama Haji Ibrahim.




a.        Kesimpulan

            Muhammadiyah adalah salah satu orgnisasi Islam pembaharu di Indonesia. Gerakan Muhammadiyah yang dibangun oleh K.H. Ahmad Dahlan sesungguhnya merupakan salah satu mata rantai yang panjang dari gerakan pembaharuan Islam.
Berkembangnya islam dipulau jawa dan bagaimana KH. ahmad dahlan mengembangkan islam dari apa yang telah beliau pelajari dari majalah almanar dan bermukim di timur tengah selama 2 tahun untuk memperdalam ilmunya, dari situ beliau menyebarkan ilmunya kepada umat muslim dan mendirikan muhammadiyah menurut pengetahuan yang beliau miliki, dari situ juga kita dapat mempelajari bagaimana usaha beliau untuk memperjuangkan islam di negri asal beliau.
maksud dan tujuan Muhamadiyah itu sendiri yaitu Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala

b.        Saran

            Menurut kami sebaiknya isi dari literatur yang kami jadikan acuan ini menjelaskan secara rinci bagaimana dan dimana Muhammadiyah didirkan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Tidak hanya latar belakang berdiri Muhammdiyah.

c.         Kritik

            Menurut kami penjelasan pada literatur yang kami baca masih menjelaskan bagaimana berdirinya Muhammadiyah dalam skala umum, belum terlalu memperinci bagaiamana dan dimana Muhammadiyah didirikan. Hanya menjelaskan latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara garis besar.

DAFTAR PUSTAKA

·          Prof.Dr.Bambang Widagdo, M. (n.d.). Al-Islam-Kemuhammadiyahan 3. Malang: UMM Press.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar